WELCOME TO HANDRY USA AREA

28 Maret 2011

3 Kunci Dasar Menggunakan Kamera Photography


13.44 |

Aperture,Shutter Speed dan ISO adalah tiga  hal mendasar yang harus dikuasai jika ingin menggunakan sebuah kamera. Dengan catatan, kamera yang kita gunakan dapat disetting manual, seperti pada kamera SLR, DSLR, dan beberapa kamera pocket yang terdapat fitur manual.
Kunci dari mendapatkan foto yang ideal tergantung pada  bukaan (Aperture), kecepatan pemetik potret (Shutter Speed) dan ISO. Kombinasi dari ketiganya menentukan hasil ekposure foto.



1.    Aperture
Aperture atau bukaan lensa, disebut juga diafragma, disimbolkan dengan huruf ( f  )pada lensa. Pengaturan aperture ini bertujuan untuk menambah atau mengurangi cahaya yang masuk melewati lensa. Cara kerja aperture ini sangat mirip dengan bukaan retina pada mata manusia atau disebut iris. Pada pusat iris terdapat bukaan yang melingkar yang disebut pupil. Diameter pupil akan berkontraksi di lingkungan yang cerah dan akan melebar di lingkungan yang gelap. Hal ini sama dengan apa yang ada di lensa.
Selain merupakan cara mengendalikan cahaya yang masuk, aperture di gunakan juga untuk mengendalikan kedalaman ruang (depth of field / dof).
Dalam prakteknya, jika Anda berada di lingkungan dimana cahaya sangat terang, maka kita bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam. Jika kondisi lingkungan gelap, maka kita bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.
Bukaan juga bisa digunakan untuk mengendalikan kedalaman ruang. Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, akibatnya latar belakang subjek menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua bidang dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.
Hal yang unik dan sering membingungkan pemula adalah nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil.
Contoh: f/1, f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, f/22 dan seterusnya
Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti 3.5-5.6 berarti makimum bukaan bervariasi antara 3.5 sampai 5.6.
Graphic2


Contoh ilustrasi pengaturan bukaan lensa atau Aperturestop, biasa juga disebut pengaturan diafragma ditunjukkan pada gambar berikut.

clip_image004 


2.    Shutter Speed

Shutter speed dapat juga diartikan kecepatan rana kamera dalam menangkap cahaya, atau durasi sinar yang mengenai sensor setelah tombol shutter di tekan. Untuk lebih memahami shutter speed, bacalah beberapa pernyataan dibawah.
“Shutter speed lambat, sensor kamera lebih lama terkena cahaya, shutter speed cepat, sensor kamera lebih sebentar terkena cahaya.”
“Jika shutter speed lambat dan objek yang ditangkap bergerak, maka akan menghasilkan gambar yang kabur atau blur. Jika objek yang bergerak diambil dengan shutter speed cepat maka akan terjadi efek freeze, atau objek yang bergerak menjadi diam.”

“Jika shutter speed lambat, ditempat yang banyak cahaya, maka akan dihasilkan gambar yang over exposure atau kelebihan cahaya. Jika di tempat yang rendah cahaya, digunakan shutter speed cepat maka gambar yang di hasilkan akan menjadi under exposure atau gelap.”

Kecepatan rana (shutter speed) adalah jangka waktu kamera membuka sensor untuk menerima cahaya. Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai to 30 detik. Variasi shutter speed ini tergantung dari badan kamera bukan dari lensa.
Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:
  1. Kecepatan rana yang cepat membekukan (freeze) objek yang bergerak.
  2. Kecepatan rana yang lama menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.
Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

clip_image006

3.    ISO

ISO adalah sensitifitas atau kepekaan sensor kamera dalam menangkap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.
Semakin tinggi ISO maka sensor akan semakin peka terhadap cahaya. Tinggi atau rendahnya ISO dapat disesuaikan dengan keadaan cahaya sekitar, sebagai contoh di siang hari yang terik, ISO rendah sudah mencukupi, berlawanan dengan keadaan malam hari yang minim cahaya, maka diperlukan ISO tinggi. ISO ini juga berpengaruh terhadap noise atau kotoran yang ada pada gambar. Kamera-kamera DSLR entry level umumnya dibekali dengan sensor yang kurang bersahabat dengan Noise (berbintik-bintik seperti pasir) jika menggunakan ISO tinggi pada tempat yang minim cahaya. Umumnya pada ISO 800 atau 1600 dengan kompresi JPEG, gambar sudah unacceptable. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan kompresi RAW, tetapi tetap saja noise nya masih cukup mengganggu. Berbeda dengan kamera DSLR Hi-End yang ditujukan bagi para profesional, noise nya masih bersahabat walaupun menggunakan ISO tinggi dan kompresi JPEG.Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.

Dengan menggunakan tiga setting dasar kamera, kita akan bisa membuat foto menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera kita. 

Ingin mendapat artikel langsung ke email anda? Silahkan DAFTAR alamat email anda dibawah untuk berlangganan.


You Might Also Like :


0 comments:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya.